Sistem Penggintiran Turun dan Penggintiran Naik | Industri Tekstil Indonesia

Tags
>

Sistem Penggintiran Turun  dan Penggintiran Naik
Mesin Gintir


Industri Tekstil Indonesia - Pada proses penggintiran ini dilakukan pada saat proses pembuatan benang agar benang lebih kuat. Maksud dari proses penggintiran ini adalah Proses merangkap beberapa helai benang sekaligus diberi antihan (twist). 

Penggintiran pastinya mempunyai tujuan, kenapa benang harus digintir. Tujuannya ialah untuk memberi penambahan kekuatan pada benang dan untuk memberi hiasan pada benang.

Pemakaian benang gintir dapat dibagi antara lain: untuk pakaian seperti tenun, rajut, dan benang jahit. Sedangkan untuk industri seperti jala ikan, tali, canvas, dan conveyer belt kain saringan .
Baca juga: Proses Penggintiran Benang

Sistem Penggintiran Turun dan Penggintiran Naik

Berdasarkan jalannya benang, mesin gintir dapat digolongkan menjadi 2, antara lain:
  1. Penggintiran Turun (Down Twister). Pada sistem ini jalannya benang yang dikerjakan dari rak kelosan digulung pada bobin dari atas ke bawah. 
  2. Penggintiran Naik (Up twister). Pada sistem ini jalannya benang dari bawah ke atas, keistimewaan mesin up twister ialah benang yang digulung pada bobin penyuap harus sudah dirangkap, karena setiap spindle hanya melayani satu bobin penggulung.

Mekanisme Mesin Gintir 

Mekanisme mesin gintir secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut:
  • Benang disuapkan oleh rol penyuap dengan kecepatan yang konstant
  • spindle diputar oleh pita pemutarnya 
  • bobin ditempatkan pada spindle dan berputar bersama-sama spindle dengan kecepatan yang sama
  • benang digulung pada bobin dengan melalui lapet dan traveller
  • traveller berputar mengelilingi bobin diatas gelang, perputaran traveller dilibatkan oleh gerakan dan tegangan benang
  • satu putaran traveller memberikan satu twist.

Hal-hal yang harus diperhatikan Pada Mesin Gintir 

1. Diameter Ring.

Diameter ring harus disesuaikan dengan macam benang, nomor benang, dan TPI yang akan dibuat. Harus diingat bahwa diameter ring makin besar akan memungkinkan proses penggulungan benang pada bobin lebih lama, berarti frekuensi waktu untuk penggantian bobin penuh dengan bobin kosong lebih sedikit dari pada apabila ukuran ring kecil.

Namun demikian pada ring yang besar menyebabkan kesukaran dalam bentuk twist yang sama yaitu traveller harus berputar lebih cepat, sehingga tegangan benang serta gesekan antar ring dengan traveller meningkat (bertambah panas) dan menyebabkan kemungkinan benang putus akan meningkat.

2. Tipe dari Pada Ring dan Traveller.

Tipe dari pada ring ada 3 macam, antara lain:
  1. O traveller
  2. C traveller
  3. Bentuk telinga
penggunaan ring dan traveller berdasarkan macam benang dan nomor benang, serta twist yang akan dikerjakan.
Beberapa ukuran sebagai pedoman, yaitu:
  • Flange Ring = Tebal ring (F) : 2.5 mm, 3.2 mm, 3.6 mm, 4.0 mm, 4.8 mm, 5.6 mm, dan 6.4 mm
  • Vertical Ring = Tinggi ring (H) : 6.3 mm, 9.5 mm, 10.3 mm, 16.9 mm, 25.4 mm, dan 38.1 mm
  • Conical Ring = Tinggi ring (H) : 8.0 mm, 11.2 mm, dan 14.0 mm.
Untuk meningkatkan kecepatan traveller dalam usaha meningkatkan kecepatan spindel (produksi), telah dikembangkan sistem pelumasan otomatis antara ring dan traveller. Dengan sistem ini putus benang dapat diperkecil dan sekaligus meningkatkan mutu benang yang dihasilkan.

Benang Gintir Hias (Fancy Yarn)

Pada proses penggintiran ini benang yang digintir salah satunya adalah benang gintir hias. Yang dimaksud dengan benang gintir hias adalah benang gintir yang bentuknya diberi hiasan sedemikian rupa, sehingga memperoleh daya tarik tersendiri sesuai dengan namanya yang dipentingkan dalam benang gintir hias dalam hiasan  bukan kekuatannya.

Konstruksi dari pada benang gintir hias, antara lain:
  • Benang dasar
  • benang hias 
  • benang pengikat
Cara pembuatan benang gintir hias lain dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 
Benang dasar dan benang masing-masing disiapkan melalui rol tersendiri dengan kecepatan putaran rol penyuap masing-masing dapat dihasilkan benang gintir hias yang dikehendaki.
Nama-nama benang gintir hias antara lain:
  • Spot yarn
  • Grimp yarn / chin yarn
  • Snarl yarn
  • Loop yarn
  • Cover yarn
  • Single flake yarn
  • Marl yarn
  • Spiral yarn
Dari dua / lebih benang gintir hias ketika digabungkan menjadi satu menghasilkan / membentuk apa yang disebut benang gintir hias gabungan.

Cara Pembuatan Benang Gintir Hias

Pembuatan Spot Yarn Dua Warna.
Benang gintir hias spot yarn adalah benang gintir yang diberi hiasan berupa bintik-bintik pada tempat-tempat tertentu. Spot yarn dua warna berarti bintik hias ada 2 warna secara bergantian di benang.

Dengan demikian spot yarn adalah benang gintir yang terdiri dari 3 helai benang yaitu satu helai benang dasar dan dua helai benang hias. Kedua pasang roller tersebut yang berputar aktif adalah roller bawah yang kecepatannya masing-masing dapat diatur melalui roda-roda gigi pengganti, roller atas yang fungsinya sebagai roll penekan berputar pasif.

Benang dapat dilakukan antara pasangan roller penyuap depan yang diperlengkapi dengan cam / piringan (ball disc motion), cam tersebut pada prinsipnya dimaksud untuk menghentikan penyuapan benang pada waktu yang diinginkan yaitu dengan jalan mengangkat roller atas hingga tidak bergesekan dengan roller bawah lagi, selanjutnya lewatkan pada batang pengantar benang dasar dua buah mistar pengantar ekor babi dan akhirnya digulung pada bobin dengan melalui ring dan traveller. Dua helai benang hias yang berbeda warnanya dilewatkan pada rol penyuap belakang, satu helai diantaranya dilewatkan dibawah mistar pengantar bawah.

Ketika helai benang tersebut diatas akan tergintir menjadi sehelai benang mulai dari bawah mistar sampai kering spindle penggulungnya. Dalam keadaan mesin berjalan kedua pasangan roll menyuapkan benang-benang nya dan terjadi penggintiran benang berturut-turut.

Penggintiran pertama terjadi pada benang dasar dan benang hias pertama dibawah mistar pengantar atas, penggintiran kedua terjadi antara benang hasil penggintiran pertama dengan benang hias kedua dibawah mistar pengantar bawah, apabila penyuapan benang dasar berhenti yang disebabkan oleh terlepasnya roll atas dari roll bawah akibat bekerjanya cam, maka terjadilah dua penggintiran benang hias, pada benang dasar akan membentuk bintik. Bintik pertama berada dibawah mistar pengantar pertama sedangkan bintik kedua berada dibawah mistar pengantar kedua.

Besar kecilnya bintik yang terjadi dapat diatur oleh waktu berhentinya penyuapan benang dasar, sedangkan jarak bintik pertama dengan bintik kedua diatur oleh jarak antara mistar-mistar pengantar bagian bawah, mistar atas dan mistar bawah.

Dengan mengatur waktu penyuapan benang oleh pasangan-pasangan roller sepanjang dua kali jarak antara mistar-mistar tersebut diatas, akan diperoleh efek bintik-bintik yang bergantian warnanya berjarak sama.
Baca juga: Pengertian Mesin Rajut dan Jenis Kain Rajut
Demikian artikel Sistem Penggintiran Turun dan Penggintiran Naik, Pada intinya penggintiran ini menentukan juga kualitas benang dan kualitas kain setelah ditenun. Tujuan dari proes penggintiran sebenarnya tergantung dari kegunaan benang pada proses selanjutnya.

Semoga bermanfaat. Sekian dan Terima Kasih.

Artikel Terkait